Selasa, 31 Mei 2011

HAKIKAT DIFUSI DAN INOVASI PEMBELAJARAN



MAKALAH


HAKIKAT DIFUSI DAN INOVASI PEMBELAJARAN



Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mandiri individu
Mata kuliah Difusi dan Inovasi Pembelajaran MTP-555




Disusun oleh :
FARIDAH RAHMAWATI
NIM : 55 2010 0254





UNIVERSITAS ISLAM AS-SYAFI’IYAH
PROGRAM PASCASARJANA
MAGISTER TEKNOLOGI PENDIDIKAN
 2011





KATA PENGANTAR

Ucapan syukur kepada Yang Maha Pemberi, senantiasa penulis desahkan atas segala  nikmat  yang  mengalir  tanpa henti. Nikmat  sehat, nikmat  iman, dan  nikmat rizki adalah anugrah termahal yang mengantarkan penulis untuk bisa  beraktivitas sebagai hamba-Nya. Atas anugerah itulah, makalah yang berjudul “Hakikat Difusi dan Inovasi Pembelajaran” ini, dapat terselesaikan.
Makalah ini sebagai salah satu tugas mandiri individu dalam Mata Kuliah Difusi dan Inovasi Pembelajaran MTP-555.
Makalah ini membahas tentang pengertian inovasi dan aplikasinya dalam pembelajaran, akan tetapi karena keterbatasan pengetahuan yang dimiliki maka dipaparkan dalam pembahasan sangatlah jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu mohon kritik dan saran dari yang terhormat Bapak dosen mata kuliah ini dan dari berbagai pihak untuk penulisan selanjutnya. Melalui tulisan ini pula saya ingin menyampaikan terima kasih kepada beberapa pihak terkait. Terima kasih khusus penulis sampaikan kepada Bapak Dr. Sigit Wibowo selaku dosen mata kuliah ini.
Akhir kata, kebenaran hanya milik Allah SWT dan kesalahan semata-mata hanya milik kami.


Cianjur,   Mei 2011
Penulis





DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................................. i
DAFTAR ISI........................................................................................................... ii

BAB I          PENDAHULUAN............................................................................. 1
A.   Latar Belakang............................................................................. 1
B.   Tujuan Penulisan.......................................................................... 1

BAB II         PEMBAHASAN................................................................................ 2
A.   Hakikat Inovasi............................................................................ 2
B.   Pengertian Difusi......................................................................... 3
C.   Aplikasi Difusi Inovasi Dalam Pembelajaran.............................. 4

BAB  III      KESIMPULAN.................................................................................. 6

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................. 7





BAB I
PENDAHULUAN

A.       Latar Belakang
Pembaharuan (inovasi) diperlukan bukan saja dalam bidang teknologi, tetapi di segala bidang termasuk bidang pendidikan dan pembelajaran. Pembaharuan pendidikan diterapkan di dalam berbagai jenjang pendidikan juga dalam setiap komponen sistem pendidikan termasuk dalam pembelajaran.
Sebagai pendidik, kita harus mengetahui dan dapat menerapkan inovasi-inovasi agar dapat mengembangkan proses pembelajaran yang kondusif sehingga dapat diperoleh hasil yang maksimal.

B.        Tujuan Penulisan
1.         Tujuan secara umum
-          Meningkatkan keprofesionalan  dalam Penulisan makalah.
-          Menambah wawasan keilmuan.
-          Meningkatkan kinerja dalam pengembangan profesi.
-          Memperoleh motivasi untuk selalu melakukan inovasi dalam dunia pembelajaran sesuai dengan jabatan yang diampu.

2.         Tujuan secara khusus
Tujuan secara khusus penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas individu dalam mata kuliah Difusi dan Inovasi Pembelajaran kode mata kuliah MTP-555.





BAB II
PEMBAHASAN

A.      Hakikat Inovasi
Kita sering mendengar istilah inovasi/pembaruan, namun apakah sebenarnya inovasi/pembaruan itu?
Memasuki milenium III, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) berkembang sangat pesat. Ini ditandai dengan adanya kemajuan dan penemuan-penemuan baru di segala bidang. Misalnya kemajuan di bidang teknologi komunikasi dan informasi yang sangat menonjol sehingga menghasilkan penemuan baru di  bidang komunikasi dan informasi tersebut. Contohnya komputer dengan sistem jaringan komunikasi internasional (internet), handphone, dan lain-lain. Kemajuan teknologi tersebut mengakibatkan adanya perubahan diberbagai bidang kehidupan, yaitu perubahan terhadap sarana kehidupan. Pola tingkah laku masyarakat, tata nilai, sistem pendidikan dan pranata sosial. Perubahan ini menuntut manusia untuk menciptakan, memanfaatkan dan mengembangkan lingkungannya bagi kesejahteraan hidupnya.
Segala sesuatu yang diciptakan oleh manusia dan dirasakan sebagai hal yang baru oleh seseorang atau masyarakat sehingga dapat bermanfaat bagi kehidupannya dikenal dengan istilah “inovasi”. Dalam kamus Bahasa inggris E. Echols. Inovasi (innovation) sebagai pembaruan atau perubahan secara baru. Untuk memperoleh wawasan saya, berikut ini akan diuraikan pengertian inovasi menurut berbagai pakar.
1.    An Innovation is an idea for accomplishing some recognize social and in a new way or for a means of accomplishing some new social (Donald P.  Ely, 1982, Seminar an Educational Change)
2.    The term innovation is usually employed in three different contexts. In one contex, it is synonymous with invention : that is, it refers to a creative process where by two or more existing concepts or entities or combined in some novel way to produce a configuration not previously know by the person involved. A person or organization of the literature on creativity treats the term innovation in this fashion (Zaltman. Duncan, Holbek, 1973, page.7).
3.  ..... is an idea, practice, or object that is perceived as new by an individual. It matters little, so for as human bahavior is concerned, wheather or not an idea is “objectively” new as measured by the lapse of time since its first use or discovery. The perceived newness of the idea for the individual determines his or her reaction to it. If the idea seems new to the individual, it is an innovation M. Rogers, 1983, page 11).

Dari beberapa pengertian inovasi di atas dapat kita lihat bahwa tidak terjadi perbedaan yang mendasar tentang pengertian inovasi antara satu dengan yang lain. Dari definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa inovasi merupakan suatu ide, hal-hal yang praktis, metode, cara, barang-barang, yang dapat diamati atau dirasakan sebagai sesuatu yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang (masyarakat). Jadi, inovasi/pembaruan penemuan diadakan untuk memecahkan masalah guna mencapai tujuan.

B.       Pengertian Difusi
Menurut Everett Rogers (1995) difusi adalah sebagai berikut : Diffusion as the process by which an innovation is adopted and gains acceptance by members of a certain community. A number of factors interact to influence the diffusion of an innovation. The four major factors that influence the diffusion process are the innovation it self, how information about the innovation is communicated, time, and the nature of the social system into which the innovation is being introduced.
Difusi diartikan sebagai proses suatu inovasi dikomunikasikan, diadopsi dan dimanfaatkan oleh warga masyarakat tertentu. Difusi merupakan suatu proses mengkomunikasikan inovasi melalui suatu saluran dalam suatu rentang waktu diantara anggota suatu sistem sosial, termasuk sistem pendidikan. Melalui proses difusi tersebut, memungkinkan suatu inovasi diketahui oleh orang banyak dan dikomunikasikan sehingga menyebarluas dan akhirnya digunakan oleh masyarakat, Oleh karena itu, tujuan utama proses difusi adalah diadopsinya suatu inovasi oleh anggota sistem sosial tertentu. Anggota sistem sosial yaitu individu, kelompok informal, organisasi, dan atau subsistem (Rogers, 1995).
Jadi proses difusi terjadi karena ada pihak-pihak yang menginginkannya, atau secara sengaja merencanakan dan mengupayakannya terjadinya suatu perubahan. Dari definisi di atas dalam proses difusi terjadi interaksi antara empat komponen, yaitu : a) karakteristik inovasi itu sendiri; b) bagamana informasi tentang inovasi dikomunikasikan; c) waktu ; dan d) sifat sistem sosial di mana inovasi diperkenalkan.

C.      Aplikasi Difusi Inovasi Dalam Pembelajaran
Pembelajaran merupakan salah satu cabang dari disiplin ilmu pendidikan yang berkembang seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam bidang pendidikan, teknologi telah memainkan peranan penting dalam proses pembelajaran. Sebagian lembaga pendidikan telah mengadopsi teknologi untuk memfasilitasi dan memudahkan proses pembelajaran baik di dalam maupun di luar kelas. Namun, masih banyak juga lembaga pendidikan yang belum akrab dengan teknologi tersebut.
Ketidak akraban tersebut pada satu sisi dapat diduga sebagai akibat difusi teknologi yang tidak merata. Pada sisi lain, ada kemungkinan karena keterbatasan biaya dan sumber daya manusia dalam lembaga pendidikan tersebut. Keberhasilan penyebaran atau difusi teknologi merupakan suatu inovasi yang dapat melembaga (institusionalisasi) dalam suatu masyarakat melalui peran agen pembaruan, sistem sosial dan organisasi.
Inovasi-inovasi dibidang pembelajaran, seperti pemanfaatan siaran radio, televisi, komputer, dan internet dengan berbagai jenis inovasi turunannya sudah pasti menuntut pendidik dan pesrta didik mampu mengubah dirinya menjadi pengguna teknologi, khususnya teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang kreatif, sudah pasti kualitas proses pembelajarannya akan meningkat.
Contoh difusi inovasi yang paling sederhana dalam pembelajaran misalnya saja pada alat berhitung. Dahulu orang menggunakan jarinya atau kerikil sebagai alat menghitung, kemudian muncul simpoa yang digunakan untuk penambahan dan pengurangan. Simpoa mudah dibawa ke mana-mana. Bentuknya berupa kerangka kayu dengan manik-manik pada batang-batangnya. Perkembangan selanjutnya mulai ditemukan mesin hitung dan alat-alat bertenaga listrik yaitu kalkulator. Dengan alat tersebut, dapat menghitung jauh lebih cepat dan jarang salah.
           




BAB  III
KESIMPULAN

Pembelajaran adalah suatu bidang inovasi dan perubahan dalam sistem pendidikan. Salah satu kawasan teknologi pembelajaran adalah pemanfaatan dengan salah satu kategorinya yaitu difusi inovasi. Studi tentang difusi (penyebaran) dan inovasi (pembaruan) pembelajaran merupakan hal penting dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran masyarakat. Difusi dan inovasi adalah pangkal terjadinya perubahan sosial (social change) yang merupakan inti pembangunan masyarakat. Masyarakat yang sedang membangun merasa berkepentingan dengan inovasi, penemuan baru, baik berupa gagasan, barang atau alat baru maupun tindakan.
Oleh karena  difusi inovasi itu adalah merupakan suatu proses komunikasi ide, hal-hal yang praktis, metode, cara, barang-barang buatan manusia yang diamati atau dirasakan sebagai sesuatu yang baru yang selanjutnya diadopsi dan dimanfaatkan oleh seseorang atau sekelompok orang (masyarakat) dalam rentang waktu tertentu pula.
Contoh difusi inovasi yang paling sederhana dalam pembelajaran misalnya saja pada alat berhitung. Dahulu orang menggunakan jarinya atau kerikil sebagai alat menghitung, kemudian muncul simpoa yang digunakan untuk penambahan dan pengurangan. Simpoa mudah dibawa ke mana-mana. Bentuknya berupa kerangka kayu dengan manik-manik pada batang-batangnya. Perkembangan selanjutnya mulai ditemukan mesin hitung dan alat-alat bertenaga listrik yaitu kalkulator. Dengan alat tersebut, dapat menghitung jauh lebih cepat dan jarang salah.



DAFTAR PUSTAKA

Barbara, Seel B dan Richey C. (1994). Instructional Technology : The Definition and Domain of the field. Wasington DC : Association for Education Communication and Technology.

Bambang      Warsita. (2008). Teknologi Pembelajaran dan aplikasinya. Jakarta: Rineka Cipta.

Rogers, Everet M (1997). Communication of Innovation. London : Collier Macmiliian Publisher.




Bloger      : faridahrahmawati.blogspot.com

Email       : ramawatifaridah@yahoo.co.id








             

Rabu, 11 Mei 2011

PROSES BELAJAR (The Learning Process) dan Pengertian Teknologi Kinerja Manusia (Human Performance Technology)



MAKALAH

PROSES BELAJAR (The Learning Process) dan Pengertian Teknologi Kinerja Manusia (Human Performance Technology)



Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Teknologi Kinerja dalam Pendidikan (MTP-525)






Disusun Oleh :

AI TUTI ROSYANTI            NIM    :     55 2010 0236
FARIDAH RAHMAWATI    NIM    :     55 2010 0254








UNIVERSITAS ISLAM AS-SYAFI’IYAH
PROGRAM PASCASARJANA
MAGISTER TEKNOLOGI PENDIDIKAN

KATA PENGANTAR

Alhamdulilah, dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, atas rahmat dan karunia-Nya, akhirnya Penulis dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “Proses belajar (The Learning Prosecess) dan Pengertian Teknologi Kinerja Manusia. (Human Performance Technology).  Penyusunan makalah ini dimaksudkan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Teknologi Kinerja.
Pembahasan dalam makalah ini diawali dengan pengertian hakekat belajar, proses belajar, kemudian dilanjutkan dengan pengertian teknologi kinerja manusia dan kolerasi antara teknologi kinerja dan proses belajar.
Penulis menyadari bahwa penyusunan makalah ini dapat diselesailkan atas dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada mereka. Khususnya ucapan terima kasih kepada Ibu. Dra. Astiana Baiti Sinaga. Selaku dosen mata kuliah ini atas doa dan restunya untuk penyusunan makalah ini.
Akhirnya, penulis berharap mudah-mudahan makalah ini dapat memberikan kontribusi terhadap kemajuan dunia pendidikan, khususnya dalam upaya mengembangkan dan mengaplikasikan teknologi kinerja manusia ke dalam proses pembelajaran sehari-hari.

Cianjur,   Maret 2011
Penulis



DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................................ .... i
DAFTAR ISI............................................................................................................... ... ii

BAB I       PENDAHULUAN..................................................................................... ... 1
A.   Latar Belakang........................................................................................ 1
B.   Kata Kunci.............................................................................................. 2

BAB II      PEMBAHASAN........................................................................................ ... 3
A.    Hakekat Belajar....................................................................................... 3
B.    Proses Belajar.......................................................................................... 5
C.    Pengertian teknologi kinerja manusia (Human Performance Technology)   11
D.    Korelasi antara Teknologi Kinerja Manusia dan Proses Belajar............ 15

BAB III    KESIMPULAN......................................................................................... . 17

DAFTAR PUSTAKA................................................................................................. . 18

BAB I
PENDAHULUAN

A.           Latar Belakang
Kata kunci yang paling vital dari suatu proses pendidikan adalah belajar, sedangkan makna dan batasan inti yang terkandung dalam belajar adalah sebuah proses perubahan. Karena kemampuan berubah melalui belajarlah, manusia dapat berkembang lebih jauh dibanding makhluk lainnya. Bahkan kualitas hasil proses perkembangan manusia sangat tergantung apa dan bagaimana seseorang belajar, tinggi rendahnya kualitas perkembangan manusia itu sendiri. E. L. Thorndike meramalkan, “Jika kemampuan belajar umat manusia dikurangi setengahnya saja maka peradaban yang ada sekarang itu tak akan berguna bagi generasi mendatang. Bahkan mungkin peradaban itu sendiri akan lenyap ditelan zaman.”
Oleh karena itu tidaklah berlebih andai kita katakan bahwa belajar memiliki peranan penting dalam mempertahankan kelangsungan hidup manusia secara manusiawi baik secara individu, kelompok, masyarakat, maupun sebagai suatu bangsa. Mempertahankan dan melangsungkan kehidupan secara baik dan sempurna sebagai power point bagi setiap aktivitas mahluk termasuk manusia. Perbedaannya adalah bahwa manusia mempertahankan dan melangsungkan kehidupannya adalah melalui belajar.
Dari sejumlah aktivitas manusia terdapat suatu aktivitas yang memiliki sifat khas, yang membedakannya dengan aktivitas manusia yang lainnya seperti misalnya, bersantai sambil melamun dan berkhayal sedang menunaikan ibadah haji di Mekah. Aktivitas dengan sifatnya yang khas itu disebut, balajar. Lalu di mana letak kekhasannya? Aktivitas yang satu ini, dalam prosesnya menjadikan pelaku berkonsentrasi, atau melakukan pemusatan perhatian.  Pemusatan peratian terhadap sesuatu yang dijadikan objek belajar dilakukan pelaku setelah dirinya memperoleh kesadaran. Tanpa kesadaran tersebut tidak akan terjadi peristiwa belajar yang sesungguhnya, sebab kesadaran merupakan motor utama penggeraak dari semua fungsi-fungsi psiko-fisik manusia. Dengan kesadarannya, manusia dapat melakukan aktivitas belajar, atau berpikir, merasa, dan berindak secara relatif tertib dan teratur. Sifat relatifnya mengindikasikan keterbatasan kemampuan-kemampuan manusia. Hal ini dapat dibuktikan, misalnya dengan perilaku teledor, atau kekeliruan-kekeliruan yang dilakukan manusia (human error) saat melangsungkan aktivitas-aktivitasnya, termasuk saat melakukan aktivitas belajar. Keteledoran atau kekeliruan ini disebabkan oleh ketidakstabilan situasi kondisi psiko-fisik individu.
Sementara menurut Scott A. Snell dan Kennet N. Wexley (1992:329) bahwa kinerja adalah kulminasi tiga elemen yang saling berkaitan : keterampilan, upaya dan sifat-sifat keadaan eksternal.
Robbins (1997:113), misalnya mengatakan, bahwa kinerja merupakan kesuksesan seseorang dalam melaksanakan suatu pekerjaan.
Teknologi kinerja mempunyai pengaruh besar dalam proses belajar terutama dalam mengindentifikasi masalah-masalah tidak dapat dipisahkan, keduanya berkaitan erat. Dalam teknologi kinerja proses belajar dilakukan secara terus menerus demi tercapainya kinerja manusia yang lebih tinggi.

B.            Kata Kunci
Untuk itu yang menjadi Kata Kunci dalam makalah ini adalah hakikat belajar, proses belajar, pengertian teknologi kinerja manusia, dan korelasi antara teknologi kinerja dan proses belajar.
BAB II
PEMBAHASAN

A.           Hakekat Belajar
Suatu hal yang lazim dalam memahami tentang suatu konsepsi adalah munculnya berbagai pandangan dan paham yang berbeda, termasuk berkenaan dengan hakekat belajar.
Berikut beberapa pandangan dan paham tentang makna belajar dari beberapa pakar, antara lain yang akan dikemukakan oleh Skinner, Chaplin, Reber dan Biggs. Lebih banyak kita pahami pendapat-pendapat ahli tentang belajar, akan membawa kita kepada pemahaman yang lebih mendalam serta kemampuan yang handal dalam mengelola serta merancang kegiatan pembelajaran sebagai tugas utama selaku praktisi pendidikan di lapangan, yang tentunya dengan tidak melupakan starting point dari konsep perubahan sebagai inti dari makna dan batasan tentang belajar, menurut
Skinner      :     Belajar adalah suatu proses adapatasi (penyesuaian tingkah laku) yang berlangsung secara progresif.
Chaplin      :                 Belajar adalah perolehan perubahan tingkah laku yang relatit menetap sebagai akibat latihan dan pengalaman.
Hitzman     :     Belajar adalah suatu perubahan yang terjadi dalam diri organisme, manusia atau hewan, disebabkan oleh pengalaman yang dapat mempengaruhi tingkah laku organisme tersebut.
Wittig        :     Belajar adalah perubahan yang relatif menetap yang terjadi dalam segala macam/keseluruhan tingkah laku suatu organisme sebagai hasil pengalaman.
Reber         :     Proses memperoleh suatu pengetahuan dan atau suatu perubahan kemampuan bereaksi yang relatif langgeng sebagai hasil latihan yang diperkuat.
Biggs         :     Belajar adalah kegiatan pengisian atau pengembangan kemampuan kognitif dengan fakta sebanyak-banyaknya dan atau pengabsahan terhadap penguasaan siswa atas materi-materi yang telah dipelajari.
Selain beberapa pengertian tentang belajar dari beberapa ahli di atas, juga kita mengenal beberapa aliran ataupun paham tentang belajar, diantaranya adalah :
1.      Teori Belajar menurut Ilmu Jiwa Daya
Menurut teori ini, jiwa manusia terdiri dari bermacam-macam daya. Masing-masing daya dapat dilatih dalam rangka memenuhi fugsingya. Yang penting bukan penguasaan bahan atau materinya, melainkan hasil dari pembentukan dari daya-daya itu. Belajar merupakan perubahan fungsional.
2.      Teori Belajar Menurut Ilmu Jiwa Asosiasi
Manusia bereaksi dengan lingkungannya secara keseluruhan, tidak hanya secara intelektual, tetapi juga secara fisik, emosional, sosial dsb. Belajar adalah penyesuaian diri dengan lingkungan. Belajar merupakan pengayaan materi pengetahuan dan atau perkayaan pola-pola sambutan prilaku baru.
3.      Teori Belajar menurut Ilmu Jiwa Gestalt
Belajar merupakan perubahan prilaku dan pribadi secara keseluruhan. Dan aliran ini ada dua teori belajar yakni konektionisme dan conditioning. Teori konektionisme menyatakan belajar adalah pembentukan hubungan antara stimulus dan respon. Teori conditioning, suartu proses belajar merupakan pembiasaan terhadap suatu tindakan tertentu, secara berulang-ulang.

Dari berbagai pandangan maupun teori belajar tersebut, ternyata berbeda. Namun menunjukkan beberapa kesamaan tentang beberapa ciri perubahan sebagai hasil belajar yakni :
1.      Perubahan itu intensional (sengaja dan disadari dilakukannya).
2.      Perubahan itu positif (sesuai dengan apa yang diharapkan) baik dipandang dari segi siswa maupun tuntutan masyarakat orang dewasa.
3.      Perubahan itu efektif (memiliki pengaruh dan makna tertentu) relatif tetap dan setiap saat diperlukan dapat direproduksi dan dipergunakan.
4.      Manisfestasi hasil belajar secara umum dapat berupa : kebiasaan, keterampilan, pengamatan, berfikir asosiatif dan daya ingat, berfikir rasional dan kritis, sikap, inhibis, apresiasi dan tingkah laku afektif. Secara sederhana dapat pula dikatakan bahwa manisfestasi hasil belajar dapat berupa pertambahan materi pengetahuan, penguasaan pola-pola prilaku dan perubahan dalam pola-pola kepribadian.

B.            Proses Belajar
Belajar merupakan suatu proses perubahan yang terjadi pada diri siswa sebagai hasil dari sejumlah pengalaman yang ditempuh, baik bersifat pengetahuan, sikap maupun keterampilan. Karena belajar merupakan suatu proses perubahan pada diri seseorang siswa, makan belajar hanya akan terjadi apabila siswa memiliki dorongan dari dalam dirinya untuk berubah sesuai dengan potensi dan kemampuannya.
Proses belajar dapat terjadi bukan saja oleh adanya suatu kesadaran (berpikir), tetapi juga dapat terjadi oleh naluri, yang ada pada diri individu. Persoalannya, apa itu naluri? Naluri, atau yang sering disebut juga insting, adalah suatu kemampuan yang dimiliki manusia di samping adalah kemampuannya bernalar (pengoperasian otak berpikir). Dalam naluri, atau insting peranan otak tidak lagi dominan. Mental-emosional individu juga turut ambil bagian dalam berperan menggerakkan individu melakukan suatu aktivitas. Dalam konsep Freud (Sigmund Freud, 1856-1939), naluri atau insting adalah representansi psikologis bawaan dari eksitasi (keadaan tegang dan terangsang) pada tubuh yang diakibatkan oleh munculnya suatu kebutuhan tubuh. Menurut Freud naluri akan menghimpun sejumlah energy psikis apabila suatu kebutuhan muncul, dan pada gilirannya naluri ini akan menekan atau mendorong individu untuk bertindak kearah pemuasan kebutuhan yang nantinya bisa mengurangi ketegangan yang ditimbuljan oleh tekanan energy psikis tersebut. Contoh, apabila tubuh membutuhkan makan, maka energi psikis akan terhimpun dalam naluri lapar yang. Mendorong dan menggerakkan individu untuk bertindak memuaskan kebutuhan akan makanan (memakan makanan). Dari sini diperoleh gambaran bahwa pada naluri terdapat empat macam unsur, yaitu : sumber, upaya, objek, dan dorongan. Sumber dari naluri adalah kebutuhan upaya adalah mengisi kekurangan atau memuaskan kebutuhan; sedangkan objeknya dalah hal-hal yang bisa memuaskan kebutuhan (misalnya makanan bagi naluri lapar). Naluri itu bersifat mendorong atas diri Individu untuk bertindak dan bertingkah laku (Freud, dalam Teori-teori Kepribadian, E. Koswara, 1991) Naluri juga diartikan, misalnya : 1) sebagai dorongan hati, atau nafsu yang dibawa sejak lahir ; merupakan pembawaan alami yang secara tidak didasari mendorong indivudu berbuat sesuatu; 2) perbuatan atau reaksi yang sangat majemuk dan tidak pernah dipelajari lebih dulu, misalnya dalam mempertahankan kelangsungan hidup ;3) sebagai  serangakaian kegiatan reflex (kegiatan psiko-fisik yang berlangsung diluar perintah otak) yang terkoordinasi; dan 4) sebagai sederetan reaksi-reaksi psiko-fisik yang tidak bergantung kepada pengalaman-pengalaman terdahulu (Kamus Besar Bahsa Indonesia, 1999).
Suatu peristiwa belajar yang digerakan oleh naluri, atau berlangsung secara “tidak disadari” oleh individu dapat dicontohkan, misalnya seorang siswa yang prestasi belajarnya kurang baik suatu saat ikut mengalami kesedihan yang dialami oleh rekan dalam kelompok sebayanya, yang tidak naik kelas karena prestasi belajarnya yang lebih buruk daripadanya. Dari kenyataan itu siswa tersebut, berdasarkan nalurinya (misalnya oleh naluri “tanatos” atau naluri kematian, yang muncul dalam bentuk rasa takut tidak naik kelas, dan takut dimarahi orang tuanya sendiri kalau tidak naik kelas. Tidak naik kelas dan dimarahi oleh orang tua bagi siswa ini merupakan “kematian”), akhinya belajar agar tidak sampai mengalami apa yang dialami oleh teman dalam kelompok sebayanya tersebut. Misalnya, ia selalu berusaha mengerjakan pekerjaan rumah, atau tugas-tugas yang diberikan guru di sekolah, dan bersikap lebih patuh pada gurunya. Semua itu dilakukan bukan oleh kesadarannya, namun oleh naluri “tanatos” yang muncul dalam bentuk rasa takutnya. Atau, seseorang yang secara refleks ikut melakukan gerakan-gerakan suatu jurus bela diri yang sedang diperagakan oleh seseorang lainnya. Gerakan-gerakan yang secara refleks itu dilakukan oleh dorongan nalurinya dalam mepertahankan diri. Lain halnya dengan yang digerakkan oleh kesadaran. Individu belajar karena kesadarannya, misalnya atas kesadaran tentang manfaat belajar itu sendiri. Ia percaya bahwa belajar bermanfaat meningkatkan kualitas dirinya. Dengan belajar. Antara lain ia akan dapat mengetahui sesuatu yang sebelumya tidak diketahui; ia akan memahami sesuatu yang tadinya tidak dipahami; dan ia akan dapat melakukan sesuatu (bersifat psikomotoris) yang sebelumnya tak dapat dilakukannya.
Proses yang disebut sebagai belajar ini didefinisikan bermacam-macam. Definisi tersebut dirumuskan berdasarkan pada sudut pandang dan pendekatan yang digunakan. Misalnya, 1) belajar sebagai suatu proses pertumbuhan yang dihasilkan oleh pertumbuhan berkondisi stimulus dan respon ; 2) belajar sebagai suatu gejala aktivitas ppsiko-fisik individu dalam proses “menjadi”. Atau , 3)  belajar sebagai suatu bentuk aktivitas tertentu yang berlangsung di dalam aktivitas interaksi antar individu dengan individu lainnya suatu kelompok sosial.
Sementara, para behaviourist (penganut psikologi behaviour) memastikan bahwa belajar pada dasarnya adalah menghubungkan sebuah respons tertentu pada sebuah stimulus yang tadinya tidak berhubungan. Respons tertentu ini kemudian diperkuat ikatannya melalui bermacam-macam cara yang terkondisi.
Sedangkan bagi penganut teori “Gestalt” (sebuah teori yang berasal dari Jerman, hijrah ke Amerika bersama tokoh-tokohnya, W. Kohler, K. Koffa, dan M. Wertheimer), hakikat belajar adalah penemuan hubungan unsur-unsur di dalam ikatan keseluruhan. Dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berikutnya, belajar didefinisikan, misalnya sebagai proses perubahan tingkah laku yang terjadi dalam suatu situasi yang berarti secara individual. Proses yang terjadi secara individual di dalam suatu situasi, bukan terjadi di dalam suatu ruang hampa. Situasi belajar ini ditandai dengan adanya motif-motif yang ditetapkan dan, atau diterima oleh peserta belajar. Pelaku belajar menerapkan sendiri motif belajarnya, atau pihak luar dirinya (misalnya guru) yang menetapkan motif tersebut.
Kadang-kadang suatu proses belajar tidak dapat mencapai hasil yang maksimal disebabkan oleh tidak adanya kekuatan pendorong\, misalnya karena individu tidak atau belum mengetahui tujuan dan manfaat belajar, serta tidak memiliki motivasi belajar  yang kuat. Motivasi yang sehat perlu ditumbuhkan secara integral (terpadu) di dalam dunia belajar, yakni diambil dari dalam sistem nilai lingkungan hidup individu, dan ditunjukan pada penjelasan tugas-tugas perkembangan individu sebagai peserta belajar.
Motivasi yang berdaya dorong besar biasanya adalah motivasi yang bersifat intrinsic  (yang berasal dari dalam diri sendiri). Contohnya, jika pelaku belajar dapat melihat dengan jelas, atau individu mengerti dan memahami hubungan-hubungan antara nilai, dan tugas-tugas perkembangannya, maka ia akan dapat menjadi cukup tangguh mengahadapi kesulitan-kesulitan, rintangan-rintangan, dan situasi-situasi yang kurang menyenangkan saat melakukan aktivitas belajar.
Motivasi dapat diaksentuasi (dititik beratkan) dari sudut kebutuhan individu sebagai pelaku belajar. Apabila upaya individu sebagai pelaku belajar telah mengahasilkan suatu pola tingkah laku  yang sesuai dengan tujuan semula, proses belajar dapat dikatakan mencapai titik akhir sementara. Pola tingkah laku tersebut terlihat pada perbuatan, reaksi-reaksi dan sikap individu pelaku  belajar, secara fisik maupun mental.
Hal ini menjelaskan bahwa hasil belajar tidak pernah terpisah-pisah (antara yang utama dengan yang mengiringinya). Hasil yang dicapai kemudian akan mendapatkan tempat di dalam perbendaharaan pengetahuan peserta belajar. Dan setiap penambahan akan mempengaruhi struktur perbendaharaan tersebut secara menyeluruh lagi.
Individu di dalam proses belajar menghadapi situasi belajar secara pribadi (individu). Tiap situasi belajar akan dihadapi oleh dirinya sebagai individu yang utuh. Akhirnya, ketika proses belajar berlangsung, individu tidak dapat mengisolir (mengasingkan ; memisahkan) sebagain dari dirinya sebagai pribadi. Oleh sebab itu penting bagi guru untuk memperhatikan individual (perhatian yang diberikan kepada setiap individu murid, atau secara perorangan) dalam proses belajar-menajar yang dilakukannya. Tidak melulu menggunakan pendekatan klasikal (dari kata kelas. Perhatian yang diberikan kepada semua murid di kelas).
Dalam pengembangan KBK, kegiatan belajar siswa sebaiknya mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut :
1.      Memberikan peluang bagi siswa untuk mencari, mengolah dan menemukan sendiri pengetahuan dibawah bimbingan guru atau orang dewasa.
2.      Merupakan pola yang mencerminkan ciri khas dalam pengembangan keterampilan dasar mata pelajaran yang bersangkutan.
3.      Disesuaikan dengan ragam sumber belajar dan dan sarana belajar yang tersedia.
4.      Bervariasi dengan mengkombinasikan antara kegiatan belajar perseorangan, pandangan kelompok dan klasikal.
5.      Memperhatikan pelayanan terhadap perbedaan individual siswa (Puskur, Balitbang Depdiknas, 2002: 13).
Dari kutipan di atas menunjukkan bahwa, kegiatan siswa dalam belajar benar-benar memberikan pelatihan kemandirian, kepercayaan diri sekaligus tanggung jawab siswa terhadap dirinya, sehingga belajar yang ditempuh benar-benar merupakan sesuatu yang syarat dan kaya dengan pengalaman, tidak hanya sebatas ruang kelas dengan situasi yang kaku dan statis, melainkan dapat memanfaatkan setiap kesempatan yang ada baik dalam lingkungan sekolah maupun diluar sekolah.
Demikian pula sumber materi, tidak hanya terbatas buku dan apa yang disampaikan guru, melainkan seluruh asset yang tersedia pada masyarakat dan lingkungan lainnya.
Selanjutnya terdapat beberapa prinsip kegiatan belajar mengajar (Puskur, Balitbang Depdiknas, 2002), yakni :
1.      Berpusat pada siswa
2.      Belajar dengan melakukan
3.      Mengembangkan kemampuan sosial
4.      Mengembangkan keingintahuan, imajinasi dan fitrah ber-Tuhan.
5.      Mengembangkan keterampilan pemecahan masalah
6.      Mengembangkan kreativitas siswa
7.      Mengembangkan kemampuan menggunakan ilmu dan teknologi
8.      Menumbuhkan kesadaran sebagai warga negara yang baik.
9.      Belajar sepanjang hayat.
10.  Perpaduan kompetisi, kerjasama dan solidaritas.

C.     Pengertian teknologi kinerja manusia (Human Performance Technology)
Apakah HPT (Human Performance technology)?
HPT adalah sebuah pendekatan sistemik untuk meningkatkan kinerja manusia yang paling efektif, maksudnya orang (manusia) harus mempertimbangkan keseluruhan sistem dimana kinerja manusia muncul : aspek dari tugas, kinerja, dan lingkungan dimana tugas tersebut dikerjakan.
HPT juga mengasumsikan bahwa kinerja individual, kelompok/tim, dan organisasi dapat ditingkatkan dengan cara paling baik melalui metoda-metode sistemik mengikuti langkah-langkah garis besar di bawah ini :
1.     Mengidentifikasi dan mengukur kesenjangan kinerja (yang diinginkan versus hasil actual).
2.     Menguji penyebab terjadinya kesenjangan kinerja.
3.     Memberikan formula intervensi kinerja (yakni, solusi, strategi dan inisiatif) yang secara jelas ditunjukkan pada sebab-sebabnya.
4.     Merancang dan mengimplementasikan intervensi.
5.     Mengevaluasi pengaruh intervensi pada kinerja.
HPT adalah sebuah bidang interdisiplin, yang terbentuk dari teori dan riset dalam psikologi, terutama psikologi pembelajaran, psikologi industri organisasi, faktor-faktor manusia dan ergonomis, riset operasional, pendidikan, perilaku, organisasi dan manajemen, dan perkembangan organisasi.
Berikut ini definisi Teknologi Kinerja dari beberapa pakar :
Gilbert (1974), menyamakan kinerja dengan prestasi-prestasi yang dicapai. Ryle (1949) yang menggunakan istilah prestasi (achievement), dimana dia menggunakannnya untuk melihat efek-efek prilaku yang berkaitan pada makna kinerja (performance). Akibatnya, prestasi itu dinilai oleh sistem, prestasi-prestasi ini yang terkait dengan HPT.
Istilah ini sering digunakan dalam mengarahkan pada prosedur-prosedur penerapan yang berasal dari penelitian ilmiah dan pengalaman para pelaksana dalam memecahkan beberapa masalah di lapangan (Clark dan Sugrue, 1990; Hawkirdge, 1976; Stolovitch dan LaRocque, 1983).
HPT adalah salah satu dari berbagai keturunan teori sistem umum, yang digunakan oleh beberapa organisasi. Sistem dianggap sebagai “Sebuah sekelompok kompleks manusia dan mesin dimana dari keseluruhannya terdapat tujuan yang sama”. (Checkland, 1972, p.91).
Menurut Ainsworth (1979, p.5), “sebuah landasan dasar dari HPT adalah sebuah hasil yang signifikan menemukan dengan benar, tujuan-tujuan kinerja yang berguna dan menyatakannya dalam istilah yang mudah dipahami.” Interversi-interversi yang tepat dirancang untuk merubah, dan ini diawasi dan dimodifikasi sampai sistem itu mencapai standar kinerja yang diharapkan.
HPT juga membawa sejumlah asumsi dan atribut, ini sudah dinyatakan oleh Geis (1986).
Berikut ini adalah poin-poin pentingnya :
1.      Teknologi kinerja manusia sah menurut hukum dan sering diprediksi dan diawasi.
2.      Ilmu tentang perilaku manusia sangat terbatas, oleh karena itu HPT harus bergantung pada pengalaman dan penelitian para ilmuwan.
3.      HPT berasal dari beberapa penelitian yang dilakukan pada saat menghasilkannya.
4.      HPT adalah hasil dari sejumlah sumber ilmu : cybernetika tingkah laku, psikologi, ilmu komunikasi, ilmu informasi, ilmu sistem, ilmu managemen, dan yang akhir-akhirnya sedang marak yaitu ilmu kognitif.
5.      HPT tidak diakui pada beberapa sistem pengiriman tidak juga dibatasi pada golongan tertentu dan area tertentu. Ini dapat digunakan pada setiap kinerja manusia, tapi biasanya lebih banyak digunakan dalam suatu organisasi dan dunia kerja.
6.      HPT bersifat empiris. Ini membutuhkan sebuah pembuktian sebagai hasil dari analisa dan usaha-usaha intervensi.
7.      HPT bersifat mengembangkan. Berdasarkan prinsip-prinsip dasarnya, namun demikian ini memperbolehkan sejumlah ruang untuk inovasi dan kreatifitas.
8.      Walaupun teknologi kinerja tidak memiliki pondasi teoritis tentang dirinya, teori dan pengalaman yang memandunya dibentuk oleh data-data empiris yang terakumulasi sebagai hasil praktek yang telah didokumentasikan secara sistematis. Dalam beberapa cara, HPT membagi atribut-atributnya dengan bidang lainnya (managemen, pengembangan organisasi kesehatan, dan psikiater).
Sejumlah pakar berusaha untuk menjelaskan makna teknologi kinerja. Beberapa dari mereka telah menekankannya dalam proses dan metode-metode yaitu “Teknologi Kinerja adalah sekumpulan metode dan proses untuk menyelesaikan masalah atau memberdayakan kesempatan yang berhubungan dengan kinerja seseorang. Ini dapat digunakan pada individu, kelompok kecil, atau organisasi besar (National Society Of Performance And Instruction Citied In Rosenberg, 1990, p.46)”.
Menurut Harless (dikutip dari Geis, 1986, hal 1), “Teknologi kinerja manusia adalah sebuah proses seleksi, analisa, rancangan, pengembangan, penerapan, dan pengujian program-program berdasar pada yang paling efektif berpengaruh terhadap perilaku manusia dan prestasi-prestasinya.”
Sedangkan selama ini memang tidak ada ketetapan definisi yang sama.
1.      HPT bersifat sistematis. Ini terorganisir, kaku, dan diterapkan dalam sebuah tingkah laku metodikal. Prosedur-prosedur yang ada yang mendorong para praktisi untuk mengidentifikasikan perbedaan dalam kinerja (masalah-masalah dan peluang-peluangnya), mengkarakteristikannya dengan terukur atau cara-cara yang dapat diawasi, menganalisa mereka, menyeleksi intervansi yang sesuai, dan menerapkannya dalam sebuah sistem yang terkontrol dan terkendali.
2.      HPT bersifat sistemik. Ini nampak adanya perbedaan kinerja manusia sebagai elemen-elemen sistem, dimana berubah dengan sistem. Ini menolak untuk menerima penyebab-penyebab yang jelas dan solusi-solusi tanpa menguji segi yang lainnya. Kinerja dilihat sebagai hasil sejumlah pengaruh-pengaruh variabel (seleksi, pelatihan, feedback, sumber daya, managemen support, insentif, dan campur tangan); semuanya itu hasil dianalisis dengan tepat, intervensi-intervensi hemat biaya diseleksi dan disebarkan.
3.      Teknologi kinerja manusia secara ilmiah didasarkan pada teori yang ada dan fakta-fakta yang empiris. Ini mencoba untuk mendapatkan kinerja manusia yang diinginkan melalui cara-cara yang berasal dari penelitian ilmiah, ketika memungkinkan, atau jika tidak memungkinkan maka dari bukti-bukti yang tersimpan. HPT sangat terbuka pada ide-ide baru dan metode-metode atau intervensi-intervensi yang bermakna. Namun demikian ini perlu bahwa, semua itu memaparkan bukti yang terorganisir secara ssitematik untuk mensupport nilai potensi mereka.
4.      HPT sangat terbuka pada semua cara, metode dan media. Ini tidak terbatas pada susunan sumber-sumber atau teknologi yang ada. Sebaliknya teknologi kinerja manusia berusaha mencari cara yang paling efektif dan efisien untuk mencapai hasil yang paling maksimal.
5.      HPT ditekankan pada perolehan prestasi-prestasi, yang manusia capat dan sistem bernilai. Ini mencari hasil garis dasar seperti yang Gilbert jelaskan (1978. hal 17). Ia mengelompokannya dalam prestasi-prestasi yang bernilai. “kinerja yang layak”. Ini tidak memfokuskan pada behaviour atau pada sebuah kemenangan. HPT memiliki kinerja yang layak sebagaimana tujuannya yang dicapai oleh pelaksana dan organisasi dimana dia bekerja.
6.      HPT adalah sebuah pendekatan teknik untuk mencapai prestasi-prestasi yang ingin dicapai oleh manusia.

D.     Korelasi antara Teknologi Kinerja Manusia dan Proses Belajar
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik.
Kurikulum yang dikembangkan sekolah saat ini menuntut perubahan pendekatan pembelajaran yang mulanya berpusat pada guru (teacher centered learning) menjadi pendekatan yang berpusat pada siswa (student-centered learning). Hal ini sesuai dengan tuntutan masa depan anak yang harus memiliki keterampilan berpikir dan belajar (thingking and learning skils), seperti keterampilan memecahkan masalah (problem solving), keterampilan berpikir kritis (critical thingking), kolaborasi, dan keterampilan berkomunikasi. Berbagai keterampilan yang diharapkan bisa dimiliki siswa dapat terwujud jika guru mampu mengembangkan rencana pembelajaran yang mendorong siswa untuk bekerja sama dan menantang siswa untuk berpikir kritis.
Selain pendekatan pembelajaran, siswa harus diberi kesempatan untuk mengembangkan kemampuan menguasai teknologi informasi dan komunikasi. Kemajuan teknologi informasi canggih khususnya yang berbasis elektronik untuk mengelola pengetahuan dalam organisasi perlu dimanfaatkan secara optimal.
Sedangkan peranan guru dengan otoritasnya terbatas pada upaya perancangan suatu kondisi yang memungkinkan siswa untuk belajar, dengan berbagai prakarsa, motivasi dan tanggung jawab profesi yang dimilikinya.












BAB III
KESIMPULAN
Dari pemaparan tadi maka dapat disimpulkan, bahwa : Belajar merupakan suatu proses perubahan yang terjadi pada diri siswa sebagai hasil dari sejumlah pengalaman yang ditempuh, baik bersifat pengetahuan, sikap maupun keterampilan. Karena belajar merupakan suatu proses perubahan pada diri seseorang siswa, maka belajar hanya akan terjadi apabila siswa memiliki dorongan dari dalam dirinya untuk berubah sesuai dengan potensi dan kemampuannya, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar di bawah ini :
KOMPONEN-KOMPONEN PROSES BELAJAR















Korelasi antara Teknologi Kinerja Manusia dan Proses Belajar mengakibatkan peran siswa bergeser dari peran sebagai “Konsumen” gagasan (menyalin, mendengar, menghafal) ke peran sebagai “produsen gagasan (bertanya, meneliti, mengarang, menulis kisah sejarah dll). Peran guru berada pada fungsi sebagai “Fasilitator” (pemberi kemudahan berlangsungnya peristiwa belajar) dan bukan penghambat peristiwa belajar.”
DAFTAR PUSTAKA

Salma, Dewi dan Eveline Siregar. 2004. Mozaik Teknologi Pendidikan. Jakarta : Kencana Prenada Media Group.

Miarso, Yusufhadi. 2009. Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Jakarta : Kencana 2009.

Bambang, Warsita. 2008. Teknologi Pembelajaran, Landasan dan Aplikasinya. Jakarta : Rineka Cipta.

Dian Sukmara. 2005. Implementasi Program Life Skill dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi pada Jalur Sekolah. Bandung : Mughni Sejahtera.

Udin. S, Winataputra. 1993. Proses Belajar Mengajar yang Efektif. Jakarta : PT. Bina Karya.